
Etnografi merupakan salah satu metode tertua sekaligus paling berpengaruh dalam ilmu sosial. Salah satu tokoh yang berkontribusi besar dalam etnografi adalah James P. Spradley, seorang antropolog dari Macalester College, Amerika Serikat.
Spradley turut terkenal dengan bukunya yang hingga kini masih jadi rujukan metode penelitian kualitatif, yaitu Participant Observation (1979) dan The Ethnographic Interview (1980). Salah satu hal yang membuat metode Spradley bertahan lebih dari 4 dekade adalah sifatnya yang didaktis atau dirancang khusus untuk membimbing peneliti pemula yang belum terbiasa melakukan wawancara dan observasi budaya secara sistematis (Garrido, 2017).
Apa Itu Etnografi?
Secara sederhana, definisi etnografi adalah studi sistematis tentang budaya melalui pengalaman langsung peneliti di tengah kelompok yang diteliti. Spradley menjelaskan bahwa etnografi bukan hanya mempelajari orang lain, akan tetapi juga belajar dari orang lain untuk memahami cara mereka memaknai dunia (Spradley, 1980). Fokus utamanya adalah makna budaya, yaitu pengetahuan tacit yang dipakai anggota suatu kelompok untuk menjalani kehidupan sehari-hari, sesuatu yang sering kali tidak disadari oleh anggota kelompok itu sendiri karena sudah terlalu melekat menjadi kebiasaan.
Hammersley dan Atkinson dalam buku mereka yang juga jadi rujukan klasik lain, Ethnography: Principles in Practice, menambahkan bahwa etnografi sebaiknya dipahami sebagai proses reflektif. Peneliti harus menyadari bahwa riset sosial adalah bagian dari dunia yang sedang diteliti, sehingga data dan analisis selalu dibentuk oleh posisi peneliti itu sendiri (Hammersley & Atkinson, 2007).
Sebelum membahas lebih lanjut tentang etnografi, penting memahami bagaimana Spradley mendefinisikan budaya sebagai fundamental dari metode ini. Bagi Spradley, budaya tidak lagi hanya berupa artefak atau perilaku yang tampak. Pengetahuan yang diperoleh seseorang dan dipakai untuk menafsirkan pengalaman serta menghasilkan perilaku juga merupakan bagian dari budaya. Dengan kata lain, etnografi ala Spradley berfokus pada makna yang tersimpan dalam bahasa dan istilah-istilah yang dipakai suatu kelompok (disebut pendekatan etnosemantik atau ethnoscience), tidak hanya mendeskripsikan apa yang tampak dari luar saja.
Pendekatan ini menempatkan Spradley dalam tradisi antropologi kognitif (cognitive anthropology) yang berupaya memahami organisasi kognitif pengetahuan budaya lewat kajian sistem semantik dengan penekanan pada relasi antar kata dan istilah yang dipakai partisipan sendiri (Jacob, 1988 dalam Lee, Nargund-Joshi, & Dennis, 2011). Prinsip utamanya adalah peneliti berusaha menangkap makna dari sudut pandang emic (perspektif orang dalam atau partisipan), bukan etic (perspektif orang luar atau peneliti itu sendiri).
Tiga Bentuk Budaya: Perilaku, Artefak, dan Pengetahuan
Spradley membuka bukunya dengan sebuah pertanyaan sederhana, apa sebenarnya yang dipelajari seorang etnografer?
Ada 3 unsur pengalaman manusia yang selalu berkaitan, yaitu apa yang dilakukan orang (perilaku budaya), apa yang mereka buat dan pakai (artefak budaya), dan apa yang mereka ketahui (pengetahuan budaya).
Spradley mencontohkan penumpang kereta komuter yang sama-sama sedang membaca. Perilakunya terlihat sama, artefaknya berupa koran, buku, atau tiket, tapi yang membuat aktivitas itu bermakna adalah pengetahuan budaya yang tersembunyi di baliknya, seperti aturan tak tertulis membaca dari kiri ke kanan, kapan boleh membaca dengan suara keras, atau bagaimana membedakan pesan penting dari sekadar iklan (Spradley, 1980).
Bagi Spradley (1980), perilaku dan artefak hanyalah permukaan tipis dari sebuah danau yang dalam. Di bawah permukaan itu tersimpan pengetahuan budaya, yang justru menjadi fokus utama etnografi. Ia bahkan mendefinisikan budaya secara ringkas sebagai pengetahuan yang dipelajari orang untuk menafsirkan pengalaman dan menghasilkan perilaku.
Dua Tingkat Pengetahuan Budaya
Salah satu konsep yang paling terkenal dalam buku Spradley adalah membagi pengetahuan budaya menjadi 2 tingkat kesadaran.
Pengetahuan eksplisit adalah bagian budaya yang bisa dibicarakan orang dengan relatif mudah. Spradley mencontohkan penelitian George Hicks di Little Laurel Valley, tempat hampir semua orang dewasa bisa dengan lancar menjelaskan hubungan kekerabatan mereka dengan puluhan anggota keluarga lain. Pengetahuan semacam ini bisa langsung diungkapkan lewat kata-kata.
Pengetahuan tacit adalah bagian budaya yang jauh lebih besar porsinya, tapi berada di luar kesadaran kita. Spradley merujuk karya Edward Hall soal bagaimana budaya mengatur jarak antar individu, cara menata ruang, atau kapan boleh menyentuh orang lain, semuanya berjalan tanpa kita sadari. Kita baru merasa “tidak nyaman” ketika seseorang dari budaya lain melanggar aturan tak tertulis ini, padahal kita sendiri tidak pernah bisa menjelaskan aturan itu secara eksplisit (Spradley, 1980).

Menurut Spradley, kedua tingkat pengetahuan ini dipakai orang untuk 2 kegunaan secara umum, yaitu menafsirkan pengalaman yang mereka alami dan menghasilkan perilaku sebagai respons. Contoh yang dipakai adalah sebuah insiden di Hartford tahun 1973, ketika sekelompok warga menyerang polisi yang justru sedang berusaha menyelamatkan nyawa seorang wanita dengan CPR. Warga menafsirkan tindakan polisi sebagai kekerasan, sementara polisi menafsirkan tindakan mereka sendiri sebagai penyelamatan nyawa. Insiden ini terjadi karena 2 kelompok memakai kerangka pengetahuan budaya yang sama sekali berbeda untuk menafsirkan peristiwa yang sama.
Prinsip ini sejalan dengan 3 premis interaksionisme simbolik dari Herbert Blumer yang dirujuk Spradley, yaitu bahwa manusia bertindak berdasarkan makna yang mereka lekatkan pada sesuatu, makna itu muncul dari interaksi sosial, dan makna itu terus dimodifikasi lewat proses penafsiran, tidak hanya dijalankan secara otomatis (Blumer, 1969, dikutip dalam Spradley, 1980).
12 Langkah Developmental Research Sequence
Kontribusi terbesar Spradley ialah merumuskan Developmental Research Sequence (DRS), sebuah rangkaian langkah yang memandu peneliti pemula melakukan etnografi secara terstruktur, mulai dari memasuki lapangan hingga menulis laporan akhir. Sebuah kajian yang mengulas metode ini menyebutkan bahwa DRS dirancang untuk membimbing peneliti junior yang teknik pengumpulan datanya bertumpu pada wawancara etnografis dan observasi lapangan (Rodríguez Gómez et al., 2017).
Dalam buku Participant Observation (1979), DRS diuraikan dalam 12 langkah, yaitu (1) menentukan situasi sosial, (2) melakukan observasi partisipan, (3) membuat catatan etnografis, (4) membuat observasi deskriptif, (5) membuat analisis domain, (6) membuat observasi terfokus, (7) membuat analisis taksonomi, (8) membuat observasi selektif, (9) membuat analisis komponensial, (10) menemukan tema budaya, (11) membuat inventaris budaya, dan (12) menulis etnografi (Spradley, 1980).
Namun menariknya, dalam praktiknya di lapangan riset (terutama di luar disiplin antropologi klasik), banyak peneliti hanya mengadopsi 4 langkah inti yang bersifat analitis, yakni domain, taksonomi, komponensial, dan tema budaya tanpa selalu menjalankan seluruh 12 tahap secara harfiah (Lee, Nargund-Joshi, & Dennis, 2011).

Lebih lanjut, secara garis besar kedua belas langkah DRS dapat dirangkum sebagai berikut:
Menentukan situasi sosial
Spradley berpendapat bahwa etnografi selalu dimulai dari sebuah situasi sosial yang punya 3 unsur, yaitu tempat, pelaku, dan aktivitas. Ia merekomendasikan beberapa kriteria untuk memilih situasi yang tepat bagi peneliti pemula, yaitu kesederhanaan (pilih situasi tunggal yang sederhana, bukan jaringan situasi yang kompleks), aksesibilitas (semakin mudah keluar-masuk dan mengamati secara berulang, semakin baik), sifat yang tidak mencolok (situasi publik seperti bus, restoran, taman, atau perpustakaan memudahkan peneliti membaur), izin untuk diteliti, dan aktivitas yang berulang secara rutin sehingga bisa diamati berkali-kali (Spradley, 1980).
Observasi partisipan
Peneliti menjalankan peran ganda, terlibat langsung dalam situasi sosial sekaligus mengamati diri sendiri dan orang lain di dalamnya. Spradley membedakan beberapa tingkat keterlibatan, dari observasi pasif hingga partisipasi penuh, tergantung sejauh mana peneliti membaur dengan kelompok yang diteliti.
Membuat catatan etnografis
Spradley menekankan 3 prinsip dalam mencatat, meliputi: prinsip identifikasi bahasa (mencatat dengan jelas apakah yang direkam adalah bahasa informan atau bahasa peneliti sendiri), prinsip verbatim (mencatat ucapan informan sedekat mungkin dengan kata-kata aslinya tanpa parafrase), dan prinsip konkret (mencatat detail spesifik daripada kesimpulan umum).
Wawancara dan pertanyaan etnografis
Berbeda dari wawancara pada umumnya, wawancara etnografis dirancang untuk menggali kategori dan istilah yang dipakai informan sendiri, bukan kategori yang sudah ditentukan peneliti sejak awal. Ada 3 kategori besar pertanyaan yang diajukan Spradley dalam wawancara etnografis:
- Pertanyaan deskriptif, yang menjadi fondasi dan porsi terbesar dari wawancara etnografis karena dilakukan di awal penelitian. Kategori ini terbagi lagi menjadi beberapa jenis: grand tour question (pertanyaan luas yang meminta informan menggambarkan “medan” pengalaman mereka secara umum, misalnya soal ruang, waktu, atau rangkaian aktivitas), mini-tour question (versi lebih sempit dari grand tour, berfokus pada satu unit kecil dari suatu aktivitas), example question (meminta contoh konkret dari sesuatu yang baru saja disampaikan secara umum), dan experience question (meminta pengalaman spesifik yang dianggap menarik atau relevan oleh informan).
- Pertanyaan struktural, yang dirancang untuk mengungkap relasi semantik antar istilah dalam suatu domain budaya dengan memverifikasi apakah istilah-istilah yang sudah teridentifikasi memang termasuk dalam domain yang sama, atau menggali taksonomi.
- Pertanyaan kontras, yang membantu peneliti memahami perbedaan makna antar istilah. Hal ini sejalan dengan prinsip Spradley bahwa “kita memahami makna suatu istilah dari apa yang bukan menjadi maknanya” (Spradley, 1979).
Analisis domain, taksonomi, komponensial, dan tema budaya
Data yang terkumpul dianalisis secara bertahap. Analisis domain untuk mengelompokkan istilah-istilah asli informan ke dalam kategori budaya, analisis taksonomi untuk memetakan hubungan antar kategori tersebut, analisis komponensial untuk membandingkan unsur-unsur pembeda dalam satu kategori, dan terakhir menemukan tema budaya yang menjadi benang merah dari keseluruhan penelitian.
Analisis Domain (Domain Analysis)
Domain adalah kategori makna budaya yang di dalamnya terkandung subkategori yang berhubungan secara semantik. Spradley menekankan bahwa peneliti sebaiknya tidak bertanya langsung soal “apa arti” suatu istilah, melainkan mengamati bagaimana istilah itu dipakai dalam konteks budaya yang diteliti.
Studi Kasus: dalam penelitian keperawatan tentang menyusui pada perempuan penderita diabetes, domain “memberi makan bayi” ditemukan mencakup istilah-istilah seperti breastfeeding, nursing the baby, feeding the baby, hingga giving the bottle, yang kemudian menjadi subkategori yang mengarah pada penggantian ASI akibat komplikasi medis yang dialami sebagian ibu penderita diabetes (Sanmiguel & Guerra, 2013 dalam Garrido, 2017).
Analisis Taksonomi (Taxonomic Analysis)
Setelah domain teridentifikasi, peneliti menyusun taksonomi untuk melihat relasi antar seluruh istilah yang tercakup di dalamnya, termasuk struktur internal, subset, dan bagaimana istilah-istilah itu berkaitan dengan keseluruhan domain.
Studi Kasus: dalam riset pendidikan sains oleh Nargund-Joshi (Lee, Nargund-Joshi, & Dennis, 2011), analisis taksonomi membantu menemukan relasi antara keyakinan guru fisika tentang “pembelajaran sains yang efektif” dengan berbagai atribut pendukungnya, seperti pentingnya lingkungan interaktif, aktivitas langsung, dan metode belajar sambil melakukan (learning by doing).
Analisis Komponensial (Componential Analysis)
Tahap ini mencari kontras, yaitu memilah dan mengelompokkan perbedaan antar istilah dalam suatu domain untuk memahami makna sebuah istilah justru dari apa yang membedakannya dari istilah lain yang berdekatan.
Studi Kasus: dalam studi tentang konsepsi siswa SD terhadap angka nol, analisis komponensial mengungkap bagaimana siswa mengategorikan nol sebagai genap, ganjil, keduanya, atau bukan keduanya sama sekali. Hal ini mengungkapkan adanya miskonsepsi matematis yang tersembunyi di balik jawaban yang tampak sederhana (Lee, Nargund-Joshi, & Dennis, 2011).
Analisis Tema Budaya (Discovering Cultural Themes)
Tahap akhir yang paling menuntut sekaligus paling kurang terstruktur dari seluruh proses DRS. Tujuannya adalah mengidentifikasi elemen kognitif yang membentuk suatu budaya, seperti apa yang dipercaya dan diakui sebagai kenyataan oleh para anggotanya.
Spradley memberikan sejumlah strategi untuk melakukan tahap ini, di antaranya immersion (keterlibatan mendalam dan berkepanjangan di lapangan), analisis komponensial dari istilah besar atau payung (cover terms) dari setiap domain, identifikasi domain yang lebih besar, pembuatan peta konseptual, hingga pencarian tema-tema universal. Spradley mengidentifikasi beberapa tema universal yang cenderung muncul di hampir semua konteks budaya yang diteliti, seperti konflik sosial, kontradiksi budaya, teknik kontrol sosial informal, strategi relasional, status, dan cara penyelesaian konflik (Garrido, 2017).
Prinsip penting yang mendasari seluruh tahapan ini adalah bahwa etnografer sejatinya adalah instrumen penelitian itu sendiri. Kemampuan mengamati, mendengar, dan mencatat secara cermat menjadi penentu kualitas data (Rodríguez Gómez et al., 2017).
Metode Etnografi sebagai Sebuah Siklus
Satu hal yang sering disalahpahami dari kerangka Spradley adalah anggapan bahwa 12 langkah tersebut harus dijalani secara berurutan. Padahal, Spradley sendiri menyebut proses ini sebagai siklus penelitian etnografis (ethnographic research cycle), yang terdiri dari 4 kegiatan yang terus berputar, seperti mengajukan pertanyaan etnografis, mengumpulkan data lewat observasi partisipan, membuat catatan etnografis, dan menganalisis data, sebelum akhirnya bermuara pada penulisan (Spradley, 1980).
Yang membuatnya berbentuk siklus adalah bahwa setiap kali data dianalisis, pertanyaan-pertanyaan baru akan muncul dan pertanyaan baru itu kembali mengarahkan observasi berikutnya. Spradley mengungkapkan bahwa peneliti pemula yang menganggap etnografi sebagai proses linear cenderung mengumpulkan catatan lapangan bertumpuk-tumpuk lalu kewalahan karena baru menganalisis data setelah semuanya terkumpul. Padahal, analisis semestinya berjalan beriringan dengan pengumpulan data sejak awal, bukan menunggu di ujung proses (Spradley, 1980).
Perspektif Lain
Meski kerangka Spradley banyak dipakai karena sifatnya yang sistematis dan mudah diikuti, namun kerangka tersebut bukan satu-satunya cara memahami etnografi. Hammersley dan Atkinson menawarkan pandangan yang lebih fleksibel, yaitu menekankan bahwa etnografi tidak harus mengikuti tahapan kaku, melainkan sebuah proses reflektif yang terus menerus menyesuaikan diri dengan dinamika lapangan (Hammersley & Atkinson, 2007).
Sementara itu, Clifford dan Marcus lewat buku Writing Culture pada pertengahan 1980-an justru mempertanyakan otoritas penulisan etnografi. Mereka menyoroti bahwa teks etnografi bukan cerminan realitas yang netral, tetapi konstruksi naratif yang dibentuk oleh pilihan retoris dan posisi kekuasaan peneliti terhadap yang diteliti (Clifford & Marcus, 1986). Pemikiran ini kemudian dikenal luas sebagai krisis representasi dalam riset kualitatif.
Perdebatan dalam Etnografi
Perdebatan paling mendasar dalam etnografi melingkupi pada pertanyaan tentang otoritas dan objektivitas. Sejak Clifford dan Marcus mengangkat krisis representasi, banyak etnografer mulai mempertanyakan apakah teks etnografi benar-benar bisa merepresentasikan realitas budaya orang lain secara akurat atau justru selalu terikat pada posisi, bahasa, dan kepentingan peneliti yang menuliskannya (Clifford & Marcus, 1986).
Norman Denzin dan Yvonna Lincoln memperluas diskusi ini dengan mengidentifikasi apa yang mereka sebut krisis ganda dalam riset kualitatif, yaitu krisis representasi yang mempertanyakan cara peneliti menuliskan pengalaman orang lain dan krisis legitimasi yang mempertanyakan ulang konsep validitas, reliabilitas, dan generalisasi yang selama ini dipakai untuk menilai kualitas riset (Denzin dikutip dalam Flaherty, 2002). Kedua krisis ini mendorong etnografer untuk lebih reflektif terhadap kekuasaan yang melekat dalam proses penulisan.
Di sisi metodologis, pendekatan terstruktur ala Spradley juga tidak lepas dari kritik. Sebagian peneliti menilai kerangka DRS terlalu formal dan berisiko menyederhanakan kompleksitas budaya menjadi sekadar daftar domain dan taksonomi, sementara realitas sosial sering kali jauh lebih cair dan sulit dipetakan secara rapi. Di sinilah pandangan Hammersley dan Atkinson yang menekankan fleksibilitas dan refleksivitas menjadi penyeimbang penting terhadap pendekatan Spradley yang lebih sistematis (Hammersley & Atkinson, 2007).
Terkait metode DRS, terdapat setidaknya 3 kritik yang diungkapkan oleh Lee, Nargund-Joshi, dan Dennis (2011). Pertama, DRS berasumsi bahwa peneliti bisa mengambil posisi yang “tidak terlibat” (non involved) saat menganalisis data (Jacob, 1988). Sejak era 1990-an, legitimasi asumsi ini mulai dipertanyakan (Korth, 2003), sehingga banyak peneliti kualitatif kontemporer beralih ke pendekatan yang lebih reflektif dan dialogis, yang mengakui bahwa peneliti tidak pernah benar-benar berada di luar proses interpretasi data (Denzin & Lincoln, 2008; Carspecken, 1996). Kedua, Spradley dianggap tidak cukup menjelaskan hubungan antara individu dan budaya. Metodenya mengasumsikan budaya termanifestasi di dalam pikiran individu (bersifat mentalistik), tapi tidak menjelaskan secara memadai bagaimana keterkaitan keduanya bekerja. Ketiga, ada keraguan bahwa analisis semantik saja cukup untuk menangkap kekayaan makna budaya. Kritik ini menyoroti bahwa struktur semantik (makna eksplisit dari kata) perlu dilengkapi pemahaman atas struktur pragmatik (bagaimana kata-kata itu benar-benar dipakai dan dimaknai dalam praktik), sebuah argumen yang dikembangkan lebih jauh oleh Carspecken (2008) dengan merujuk pada teori Habermas.
Perdebatan lain yang lebih kontemporer menyangkut etnografi di era digital. Dengan makin banyaknya interaksi manusia terjadi di ruang daring, muncul pertanyaan apakah prinsip-prinsip klasik seperti observasi partisipan dan wawancara tatap muka ala Spradley masih relevan diterapkan begitu saja atau perlu dimodifikasi secara signifikan untuk menangkap dinamika komunitas virtual.
Dari Etnografi Lapangan ke Netnografi: Relevansi di Era Digital
Spradley menulis metodenya jauh sebelum internet menjadi ruang sosial utama manusia. Tapi prinsip dasarnya dalam memahami makna budaya lewat pengamatan partisipatif dan bahasa yang dipakai suatu komunitas tetap relevan bahkan ketika “lapangan” penelitian berpindah ke dunia digital. Robert Kozinets (2002) memperkenalkan istilah netnografi (netnography) dalam Journal of Marketing Research sebagai adaptasi teknik etnografi konvensional, termasuk observasi partisipan, untuk meneliti perilaku dan budaya komunitas daring.
Meski Kozinets mengembangkan kerangkanya sendiri yang disesuaikan dengan karakteristik unik data digital (anonimitas, jejak teks permanen, dinamika komunitas daring), semangat dasarnya sejalan dengan apa yang diusung Spradley, yaitu memahami dunia dari sudut pandang emic partisipan, lewat bahasa dan istilah yang benar-benar mereka gunakan sendiri, bukan kategori yang dipaksakan dari luar oleh peneliti.
Kesimpulan
Metode etnografi Spradley lewat Developmental Research Sequence-nya, memberi kerangka yang sistematis dan mudah diajarkan untuk memahami budaya suatu kelompok dari sudut pandang mereka sendiri. Mulai dari cara mengamati, cara bertanya lewat wawancara etnografis, sampai 4 tahap analisis data yang berjenjang: domain, taksonomi, komponensial, dan tema budaya. Metode ini terbukti dipakai luas lintas disiplin, dari keperawatan, pendidikan sains dan matematika, hingga riset pemasaran digital lewat turunannya seperti netnografi.
Namun seperti kerangka teori mana pun, DRS juga terus diuji dan dikritik terutama soal posisi peneliti yang dianggap terlalu “objektif”, relasi individu-budaya yang kurang dijelaskan, serta keterbatasan analisis semantik semata. Meskipun demikian, DRS hingga kini masih tetap jadi kerangka analitis yang kuat dan mudah diikuti, khususnya bagi peneliti pemula walau sebaiknya digunakan sambil tetap kritis dan reflektif terhadap posisi peneliti sendiri dalam proses interpretasi data.
Referensi
- Spradley, J. P. (1980). Participant Observation. New York: Holt, Rinehart and Winston.
- Spradley, J. P. (1979). The Ethnographic Interview. New York: Holt, Rinehart and Winston.
- Blumer, H. (1969). Symbolic Interactionism: Perspective and Method. Englewood Cliffs, NJ: Prentice-Hall. (Dikutip dalam Spradley, 1980)
- Carspecken, P. F. (1996). Critical Ethnography in Educational Research: A Theoretical and Practical Guide. Routledge.
- Clifford, J., & Marcus, G. E. (Eds.). (1986). Writing Culture: The Poetics and Politics of Ethnography. Berkeley: University of California Press.
- Flaherty, M. G. (2002). The “Crisis” in Representation: Reflections and Assessments. Journal of Contemporary Ethnography, 31(4), 508–516.
- Garrido, N. (2017). The Method of James Spradley in Qualitative Research. Enfermería (Montevideo), 6(SPE), 37–42. https://doi.org/10.22235/ech.v6iespecial.1449
- Giddens, A. (1990). The Consequences of Modernity. Stanford University Press.
- Hammersley, M., & Atkinson, P. (2007). Ethnography: Principles in Practice (3rd ed.). London: Routledge.
- Kozinets, R. V. (2002). The Field Behind the Screen: Using Netnography for Marketing Research in Online Communities. Journal of Marketing Research, 39(1), 61–72. https://doi.org/10.1509/jmkr.39.1.61.18935
- Jacob, E. (1988). Clarifying Qualitative Research: A Focus on Traditions. Educational Researcher, 17(1), 16–24.
- Lee, J. S., Nargund-Joshi, V., & Dennis, B. (2011). Progressing through the Haze in Science and Mathematics Education Research: Contemporary Use of Spradley’s Qualitative Inquiry in Two Case Studies. International Journal of Qualitative Methods, 10(1), 46–63. https://doi.org/10.1177/160940691101000104
- Rodríguez Gómez, D., et al. (2017). The Method of James Spradley in Qualitative Research. Ciencias Psicológicas.