Press ESC to close

Belajar Jualan Online dari seswatu

Judulnya promosi banget, ya, ada kata seswatu, alias nama tokoku. Kalau belum tahu, seswatu adalah usaha online kecil-kecilanku. Iya, masih kecil memang. Tapi, aku belajar banyak hal dari berjualan online mengelola seswatu. Di postingan ini aku pengin sedikit cerita tentang pelajaran dan pengalaman apa aja yang aku dapatkan sebagai penjual pemula dari jualan online di seswatu. 🙂

Berjualan itu sangat menarik. Bagaikan sebuah perjalanan, aku mengalami yang namanya character development selama berjualan online di seswatu. Karena memberikanku banyak sekali pelajaran dalam mengelola sebuah bisnis. Yah, meskipun masih kecil-kecilan.

Hal-hal yang Aku Temukan dari Berjualan Online

Buat kamu yang baru berjualan dan merasa banyak sekali menemukan pengalaman baru (dan banyak yang ngeselin), tenang! Kamu nggak sendirian, kok. Aku pun mengalami fase itu. Seiring berjalannya waktu, kamu akan menemukan banyak sekali pelajaran baru dalam mengelola bisnis yang bahkan bisa sampai berpikir, “oh ternyata kayak gini ya jualan, tuh.” 🤔

Nah, berikut adalah belajar seswatu dari berjualan online versiku:

Meningkatkan Kesabaran

Saat awal jualan pasti senang banget kalau dapat rating ⭐⭐⭐⭐⭐ dan ulasan positif. Lalu, gimana perasaanku waktu dapat rating ⭐ dengan ulasan negatif, yang padahal bukan kesalahanku? Wah, emosi ini meluap-luap, aku merasa kesal. Akhirnya, aku memberikan respon yang kurang baik ke pembeli tersebut hingga berujung enggak enak dengan si pembeli. 😂

Beberapa waktu kemudian aku sadar, meskipun bukan kesalahanku dan sudah jelas ada di deskripsi dan foto produk, tapi balasanku memang kurang bijak. Ya, karena aku belum terbiasa mendapatkan ulasan negatif. Seiring dengan banyaknya menghadapi bermacam-macam pembeli, pelan-pelan aku coba belajar untuk jadi penjual yang lebih sabar terutama jika dihadapkan dengan pembeli yang menyebalkan.

Meskipun jika dapat ulasan yang enggak sepadan dengan usahaku, tapi, yasudahlah. Kita enggak bisa membuat semua orang senang, bukan? Yang paling penting, hampir seluruh pembeliku merasa puas dengan produk dan pelayanan tokoku. Bisa dicek langsung di tokonya, ya! 😝

Baca Juga  Memacu Adrenalin Arung Jeram di Jalur Patrol - Bendungan, Sungai Cimanuk Garut

Oh iya, menghadapi pembeli atau customer itu memang ada ilmunya, lho. Kalau ingin tahu lebih banyak, bisa coba belajar tentang Customer Service, Customer Relationship Engagement/Management, dan semacamnya.

Problem Solving atau Memecahkan Masalah

Dalam proses berjualan, sudah pasti bakalan ada aja masalah. Entah itu masalah kecil atau besar, keduanya sama-sama harus dihadapi.

Masalah ini sudah bermunculan sejak awal aku berjualan. Aku yang awalnya orangnya mudah panik, sangat khawatir menghadapi berbagai macam masalah itu. Enggak jarang harus berkorban seperti harus nombok atau harus keliling Jogja buat cari stok barangku yang habis.

Aku benar-benar banyak belajar untuk memecahkan berbagai macam masalah. Gimana aku harus bisa mencari alternatif lain jika ada kendala. Gimana aku harus melakukan negosiasi dengan customer. Hingga bagaimana aku harus berani mengambil keputusan untuk memecahkan masalah.

Karena untuk memecahkan suatu masalah pasti ada resiko yang juga harus dihadapi. Resiko nombok, resiko dapat ulasan negatif, dan sebagainya. Kerugian atau kesalahan ini menurutku hal yang baik, sebab aku jadi belajar untuk tidak mengulanginya lagi dan mencari solusi atas permasalahan tersebut.

Bagiku, proses dalam memecahkan masalah dan menghadapi resiko ini butuh keberanian besar. Dari aku yang awalnya gampang banget panik dan takut, hingga akhirnya sekarang aku mulai bisa mengurangi kepanikan dan ketakutanku agar bisa lebih fokus dengan apa yang harus aku lakukan untuk menyelesaikan masalah itu. 🙂

Komunikasi

Aku yang juga bekerja sebagai admin / customer service tokoku, sudah pasti akan bertemu dengan berbagai macam customers dan juga suppliers. Di sini kemampuan komunikasiku terasah.

Sejak awal aku sudah menentukan persona admin seswatu adalah seorang yang ramah, friendly, dan sangat paham dengan produk-produk yang dia jual. Persona ini pun berhasil dirasakan oleh customers. Banyak ulasan yang bilang kalau admin-nya ramah. 😀

Ilustrasi sebagai pemanis konten
Photo by cottonbro on Pexels.com

Enggak semua obrolan dengan customers hanya menjawab pertanyaan, tapi juga ada waktu ketika aku harus menjelaskan jika sedang terjadi kendala dan mencoba untuk memberikan pemahaman ke customers. Merangkai kata untuk dapat dipahami dengan baik oleh orang lain itu ternyata tidak mudah, ferguso. Pake mikir banget. 😂

Selain dengan customers, aku juga belajar berkomunikasi dengan kurir, suppliers, agen yang menawarkan barangnya untuk dijual di tokoku dan juga customers B2B yang memasok barang dari seswatu.

Baca Juga  Liburan Akhir Tahun 2011, Bertualang di Jawa Timur

Aku juga jadi menyadari, jika aku bisa membangun komunikasi dengan baik, maka hubungan pun dapat terjalin dengan baik pula dan bisnispun jadi lancar. Komunikasi adalah koentji. 😎

Menjaga dan Mencatat Keuangan

Sejujurnya aku bukan orang yang rapi banget ngurusin duit. Tapi, sejak aku mengurus seswatu dan merasa punya amanah kepada diri sendiri agar bisa punya usaha beneran, mau enggak mau aku harus jaga keuangan toko semaksimal mungkin.

Awalnya mungkin banyak terjadi kebocoran biaya. Yah, namanya juga belajar kan, ya. Pelan-pelan mendisiplinkan diri untuk selalu mencatat pemasukan dan pengeluaran biaya, serta memastikan keuangan enggak bocor lagi.

Meskipun sepertinya memang cara pencatatanku masih manual dan ribet (ya, namanya juga enggak punya pengalaman jadi akuntan atau yang berkaitan dengan uang perusahaan), seenggaknya aku bisa merekam semua aliran keuangan tokoku sendiri.

Aku juga jadi belajar hitung-hitungan biaya. Sejujurnya lagi, aku kurang ahli dengan hitung-menghitung, hahaha! Balik lagi karena ini adalah kewajiban, jadi mau enggak mau aku harus berteman dengan formula sheet dan kalkulator manual.

Soal hitung-hitungan ini, aku sangat waspada. Ada ketakutan juga kalau barang yang ingin aku stok enggak laku, atau modal belum balik sementara produk yang paling laku stoknya habis dan enggak bisa re-stock dalam waktu dekat. Di sini aku belajar bagaimana aku harus mempertimbangkan transaksi dengan baik dan yakin dengan produk yang ingin aku stok.

Kedisiplinan mencatat keuangan dan hati-hati dalam melakukan transaksi ini mungkin salah satu yang membuat seswatu bisa terus berjalan hingga sekarang. 😁

Merancang Produk dan Membangun Brand

Meskipun produk yang aku jual adalah produk jadi alias reseller, tapi aku harus punya produk ‘rancangan’ sendiri, dong. Salah satunya adalah produk yang dibuat menjadi paket atau bahkan hampers.

Kenapa, sih, aku harus repot ‘merancang’ produk yang sebenarnya bisa langsung dijual aja? Karena, aku ingin menambah value seswatu di produk tersebut. Aku ingin, seswatu bisa menjadi bagian dari produk yang sudah customers beli, meskipun produk tersebut punya merk sendiri.

Proses perancangan ini bisa dibilang susah-susah gampang. Aku juga enggak tahu harus cerita dari mana, karena prosesnya mengalir gitu aja. 😂

Tapi, di sela-sela proses tersebut selalu ada aja pikiran, ‘emang siapa, sih, yang bakal beli produk paket atau hampers ini?‘. Awalnya, aku selalu jawab, ‘kayaknya gak ada, sih. Tapi, coba jual dulu, aja, deh‘. Klise emang, yang penting coba dulu, aja.

Baca Juga  Pengalaman Merawat Tanaman Daun Mint untuk Pemula
Salah satu produk hampers seswatu

Ternyata, ada yang beli. Kemudian, muncul pertanyaan berikutnya, ‘kenapa, ya, dia mau beli produk paket itu?’. Aku mulai berpikir untuk menjawab pertanyaan tersebut hingga akhirnya ada beberapa kemungkinan yang membuat produk paket yang aku buat laku.

Munculnya pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat aku jadi semakin terbiasa dan akhirnya aku mengubah pola pertanyaan saat aku ingin merancang produk. Mulai dari yang enggak yakin dengan produk yang aku rancang, hingga akhirnya saat ini aku mulai dengan mencaritahu apa yang diinginkan atau dibutuhkan customers.

Proses berpikir dalam merancang produk ini membuatku belajar beberapa hal; berpikir kritis dan kreatif, pengambilan keputusan, dan riset pacar kecil-kecilan.

Aku juga belajar untuk lebih percaya diri dan berusaha menghargai produk yang sudah aku buat. Percaya atau tidak, ini adalah satu hal yang cukup sulit aku lakukan sebelumnya. Beruntungnya, aku sempat mengikuti Fullstack Digital Bootcamp Belajarlagi yang salah satu kelasnya membahas tentang Brand Building. Aku sangat terbantu dari materi itu karena aku jadi mengenal tentang brand dan produk.

Terdengar ribet, yha. Ya, beginilah kalau berproses. Ribetnya enggak begitu kelihatan. Suatu saat mumet, tapi tahu-tahu sudah jadi atau terlewati. 🤣

Kesimpulan: Banyak Skill yang Terasah dari Berjualan Online di seswatu!

Enggak kerasa, ternyata banyaaaak sekali yang aku pelajari dari seswatu, baik itu hard skill maupun soft skill. Mulai dari aku yang cupu dengan dunia perdagangan online, hingga akhirnya mulai bisa memutar otak untuk mengelola sebuah usaha, ya meskipun masih kecil wk.

Bisa mempertahankan seswatu dalam jangka waktu satu tahun dan terus berkembang itu adalah suatu pencapaian besar buatku. Pengalaman tokoku sebelumnya boro-boro bisa nyentuh 6 bulan. 🤣

seswatu di Tokopedia
seswatu di Shopee

Sekali-sekali boleh, ya, aku bangga dengan diri aku sendiri dan juga seswatu. Enggak apa-apa masih kecil dan belum bisa menghasilkan banyak, tapi aku sangat bersyukur karena pelajaran yang aku dapatkan besar dan bermanfaat banget untuk kehidupan sehari-hari, maupun bekal di kerjaan lainnya. 🤗

Kalau kamu gimana? Apakah punya pengalaman atau pelajaran menarik sebagai penjual pemula? 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *